Senin, 29 April 2013

Pukul 01.00 Hidup ini memang keras yak... lebih keras dari yang kita bayangkan



Tanggal 27 april 2013, aku hendak pulang ke bandar lampung sekedar untuk melakukan sebuah rencana kedepan terkait masa depan. Yap, karena kata mario teguh keberhasilan itu ada di alam tindakan bukan alam rencana. Setelah isya aku berangkat naik bis, aku lupa nama bis-nya apa, yang pasti itu adalah bis jurusan bandung-merak. Selama kurang lebih 4 jam berjalanan dalam bis dari bogor ke merak, alhamdulillah semuanya lancar  dengan sedikit tidur di bis.

Tepat pukul 01.00 aku sampai di merak. Selama ini kadang aku ndak sadar bahwa memang kehidupan ini terus berjalan tanpa henti. Suasana di pelabuhan merak di pukul 01.00 sama kondisinya dengan suasana disiang hari. Padahal pukul 01.00 adalah waktunya tidur atau bagi yang sangat taat waktunya menyendiri berdiri di mihrabnya masing-masing untuk melaksanakan qiyammul-lail. Pukul 01.00 dengan mata kemerahan, masih banyak bapak-bapak, ibu-ibu yang masih berjuang mencari nafkah bagi keluarganya. Lalu kapan tidurnya orang-orang itu? Kapan istirahatnya?

Itu semua belum apa-apa. Masih ada lagi pemandangan yang membuat hati ini teriris dan membuat diriku merinding. Sepanjang perjalanan melalui lorong-lorong jalur menuju tiket ternyata masih banyak sekali ibu-ibu yang menjual kopi, pop mie, dan jajanan lain. Bahkan ada yang sambil menggendong anak-anaknya. Kalo melihat raut muka dan kondisinya rasanya ndak tega dan sangat iba.  Pukul 01.00 mereka, seorang perempuan masih berkeliaran untuk mencari nafkah. Pukul 01.00 disaat orang lain beristirahat dengan kehangatan kasur empuknya, mereka malah diterpa angin malam yang membuat tubuh ini kedinginan. Pukul 01.00 disaat para pemimpin telah menyelesaikan aktifitasnya dan beristirahat untuk mengisi kekuatan untuk hari esok mereka tetap saja masih berjuang, berjuang untuk sekedar menjual kopi atau pop-mie.

Aku ndak ngerti apa yang harus dilakukan. Aku Cuma bisa berjalan melewati mereka sambil menganggukkan kepala tanda ndak beli. Yap, aku ndak bisa apa-apa, aku hanya tersadar kembali bahwa semua beban yang ada dalam kehidupanku mungkin bukan beban tetapi merupakan sebuah alat untuk naik ke level yang lebih tinggi. Seperti alat-alat fitness untuk memperbesar dan memperkuat otot di tubuh. Kesulitan yang kulalui, mungkin karena kesalahanku atau sebuah jalan agar aku bisa belajar menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehingga bisa disadari bahwa masalah, kesulitan, beban, tanggung jawab, urusan serta ujian yang dihadapi selama ini belum seberapa ketimbang apa yang harus dialami orang-orang yang berdagang hingga pukul 01.00 di pelabuhan merak. Jangan sampai kita menyerah dengan kesulitan, beban yang dihadapi hanya karena ingin selalu berada dalam zona nyaman. Siapa yang ndak mau dizona nyaman, semua orang pasti mau. Namun kyaknya kita harus menanti kesabaran untuk berada pada zona nyaman yang sesungguhnya yang sejati saat kita menginjakkan telapak kaki kita ke syurga.

Untuk yang satu ini, ga ada makan siang gratis. Ga ada yang mudah, ga ada yang instan, semua butuh proses, banyak ujiannya dan butuh kesabaran untuk tetap konsisten dalam menggapainya. Yang menggapai surga butuh perjuangan dan konsisten. Maka kesimpulan dari moment ini yuk mari kita bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Mudah-mudahan kenikmatannya bertambah. Jangan sampai ketidaksadaran kita membuat kita mencari puncak gunung padahal kita sendiri telah berada dipuncak gunung. Nikmati, syukuri keindahan yang ada di puncak gunung yang masing-masing kita miliki. Kita semua telah berada di puncak gunung, tapi sering banyak ga sadarnya. Kita semua udah diberi nikmat yang luar biasa tapi sering ga bersyukurnya sehingga sering memaksakan kenikmatan yang terkadang menyakiti atau merugikan orang lain.

Diatas kapal ferry yang namanya Dharma kencana IX (kapalnya bagus banget, mewah banget lho..)
Alhamdulillah...

1 komentar: