Kamis, 31 Januari 2013

Pembangunan Pabrik dan Perkebunan Gula di Tiap Daerah Dengan Motto “Yang Manis Akan Tetap Menjadi Pemanis, Tidak Akan Menjadi Penyebab Kepahitan Dalam Kehidupan Ini”



Pembangunan Pabrik dan Perkebunan Gula di Tiap Daerah Dengan Motto
“Yang Manis Akan Tetap Menjadi Pemanis, Tidak Akan Menjadi Penyebab Kepahitan Dalam Kehidupan Ini”


Gula merupakan salah satu bahan makanan yang telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Hal tersebut tidak dipungkiri karena gula merupakan sumber energi dan penambah rasa nikmat dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Gula dapat digunakan masyarakat dalam berinovasi menghasilkan makanan dan minuman yang dapat menambah nilai atau selera makan sehingga keuntungan dan kenikmatan hidup dapat diperoleh dari butir-butir kristal kecil yang disebut gula.
          Masyarakat Indonesia merupakan salah satu konsumen gula yang terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 270 juta jiwa dapat dibayangkan kebutuhan gula untuk memenuhi seluruh permintaan masyarakat. Kebutuhan gula masyarakat Indonesia pada tahun 2012 mencapai mencapai 4,7 juta ton, sehingga untuk mencukupi kebutuhan gula nasional tak jarang pemerintah harus mengimpor gula hingga mencapai 2,1 juta ton. Hal ini merupakan sinyal bahwa Indonesia sangat membutuhkan adanya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi gula dalam negeri.
       Ketua Asosiasi Perkebunan Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil mengatakan bila Indonesia ingin melakukan swasembada gula nasional, maka lahan tebu harus diperluas hingga 750 ribu hektare. Saat ini Indonesia baru memiliki lahan tebu sekitar 451 ribu hektare yang sebagian banyak tersebar dipulau jawa sedangkan di pulau-pulau besar lain di Indonesia masih sedikit sekali perkebunan maupun pabrik gula. Dari fakta ini, melalui otonomi daerah yang telah terlaksana dengan baik di Indonesia seharusnya pemerintah membangun perkebunan dan pabrik gula di tiap daerah sehingga tiap daerah dapat memenuhi kebutuhan gula bagi masyarakat tiap daerahnya masing-masing.
          Apabila dikaitkan dengan perekonomian daerah, tentunya hal ini sangat baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Apabila ada perkebunan dan pabrik gula di tiap daerah maka lapangan kerja akan bertambah dan tiap daerah di indonesia akan berkembang seiring pembangunan disekitar pabrik dan perkebunan gula yang dibangun.  Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap gula akan terjamin pemenuhannya serta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membangun perkebunan tebu secara mandiri. Selain itu, pemerintah akan terbantu dengan stabilnya stok gula nasional apabila tiap daerah dapat memenuhi kebutuhan terhadap gula secara mandiri.
        Investasi terhadap pembangunan pabrik dan perkebunan gula di tiap daerah jauh lebih baik daripada setiap daerah berinvestasi untuk mengeksploitasi di bidang pertambangan. Hal ini dikarenakan pertambangan adalah salah satu pemanfaatan sumberdaya alam yang dalam jangka pendek akan habis dan tidak dapat diperbaharui. Selain itu, pertambangan merupakan salah satu penyebab rusaknya ekosistem dan penyebab terjadinya bencana alam. Sedangkan perkebunan gula merupakan pemanfaatn sumberdaya yang renewable dan sangat penting bagi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
         Gula merupakan pemanis dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, dibangunnya pabrik atau perkebunan gula ditiap daerah harus selalu memerhatikan aspek kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Selama ini, telah banyak pabrik yang tidak memerhatikan aspek kelestarian lingkungan sehingga merusak ekosistem dan lingkungan sekitar pabrik. Hal tersebut akhirnya menimbulkan bencana dan masyarakat sekitar pabrik menjadi obyek yang menerima efek negatif dari bencana tersebut. Banyak sekali kasus perusahaan atau pabrik yang tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita masyarakat. Apabila sebuah bencana atau kerugian terjadi dan yang menjadi penyebab adalah pabrik gula, maka pabrik gula harus bertanggung jawab penuh terhadap kerusakan dan kerugian yang diterima masyarakat. Namun, apabila pabrik gula tidak bertanggung jawab secara penuh, maka motto yang disampaikan pada judul tulisan ini.
       Manisnya gula harus dirasakan tidak hanya dalam hal fisik oleh masyarakat melalui rasa manis yang didapat oleh panca indra tetapi juga manisnya gula harus dirasakan dalam hal kemanfaatan dan keuntungan. Terbukanya lapangan pekerjaan, santunan bagi rakyat miskin, perekonomian yang berkembang, kebahagiaan, keceriaan dan lingkungan sekitar yang dibangun dengan lebih baik merupakan beberapa rasa manis dalam kehidupan ini selain rasa manis yang dihasilkan gula saat dirasakan oleh lidah manusia. Semua hal itu tidak akan teralisasi apabila pemerintah dan stakeholder yang terkait dengan pembangunan pabrik gula tidak mau berkomitmen dengan motto ini “Yang Manis Akan Tetap Mejadi Pemanis, Tidak Akan Menjadi Penyebab Kepahitan Dalam Kehidupan Ini”. Apabila motto ini telah ditulis dan semuanya telah berkomitmen, maka manisnya kehidupan dalam bentuk yang lain akan tercipta tidak hanya manis dalam rasa secara fisik tetapi juga manis dalam perekonomian, pembangunan dan kesejahteraan.
      Realisasi pembangunan pabrik gula disetiap daerah dengan segala tantangan yang ada terkait sumberdaya alam, teknologi, dan sumberdaya manusia, maka pemerintah tidak dapat bekerja secara mandiri. Pemerintah membutuhkan kerjasama dengan beberapa pihak dan para ahli untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gula. Untuk meningkatkan produksi gula nasional tidak hanya membutuhkan lahan yang luas tetapi juga efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan dan produksi di tiap pabrik. Indonesia memiliki Institut Pertanian Bogor yang dibangun oleh Presiden Pertama Republik Indonesia ir. Soekarno. Dalam pidatonya pada peletakan batu pertama IPB, masalah pangan adalah masalah hidup atau mati dan Institut Pertanian Bogor menjadi salah satu tumpuan dalam perkembangan pertanian Indonesia, salah satunya dapat membantu dalam peningkatan produksi gula nasional. 



Senin, 07 Januari 2013

#semangat memperbaiki

#hidup itu pilihan
#semangat afiliasi
#semangat kontribusi
#kode sebelum kode untuk seseorang
#mode sholeh on
#hidup itu indah
#sang pejuang
#maaf

ndak terasa banyak sudah kata yang terucap
banyak sudah gambar dan kejadian yang telah dilihat
banyak sudah suara, lantunan, lagu, bacaan yang telah didengar
banyak sudah makanan yang telah dikecap
banyak sudah perasaan dan sikap yang telah masuk ke hati dan dirasa
banyak sudah hal yang telah dilakukan
banyak sudah kesalahan telah di perbuat
banyak sudah keburukan yang ada pada diri ini
mungkin, banyak sudah kebaikan yang telah dilakukan (hanya Allah yang tahu ikhlas atau ndak)
banyak sudah buku telah dibaca
banyak sudah tangan ini menulis
banyak sudah canda yang telah dilontarkan
banyak sudah hati dan otak ini memikirkan sesuatu
banyak sudah aku mengenal orang lain
banyak sudah tempat yang telah dikunjungi
banyak... sudah banyak yang dilakukan...

semuanya akan dipertanggungjawabkan.... hanya dengan perbaikan semua itu akan menjadi indah... hanya dengan introspeksi semuanya dapat diperbaiki... hanya dengan mengakui kesalahan semuanya dapat terkoreksi... hanya dengan bertaubat semua keburukan akan diampuni...
mudah-mudahan tangan yang menuliskan ini ingat akan apa yang telah ditulis
mudah-mudahan mata yang telah membantu untuk menulis dapat menampilkan secara jelas didalam hati dan pikiran
mudah-mudahan hati dan pikiran yang telah sadar untuk menulis ini selalu ingat dan sadar apa yang telah ditulis...
mudah-mudahan tetep konsisten untuk melakukan perbaikan, kalaupun lalai ga terlalu jauh... mesti cepet kembali konsisten...
mudah-mudahan tulisan ini dapat menginspirasi dan mengingatkan bagi yang menulis maupun yang membaca

tambah satu lagi deh #semangat memperbaiki....

Sabtu, 05 Januari 2013

terbunuh oleh kelalaian

hari ini bener-bener mengecewakan, ga hanya bagi diriku sendiri tapi sangat mengecewakan buat orang lain... lalai... ketiduran.... ingkar janji...
tepat pukul
03.00 bangun tidur, kemudian mengerjakan agenda pribadi
04.30 sholat
05.30 ngingetin temen-temen untuk sebuah pertemuan jam 07.00
06.00 ngeliat sport7 dan lensa olahraga (ada van persi ngegolin)
06.15 tidur (please deh) kecewa, kecewa, kecewa, kecewa...
08.00 bangun
08.15 sampe ke tempat pertemuan (temen-temen udah pulang)

ibaratnya kalo punya pacar, aku langsung putus
kalo punya atasan di pekerjaan , aku langsung dipecat
kalo punya partner bisnis, aku langsung ga dipercaya
kalo punya dosen, aku langsung disuruh keluar kelas
kalo aku mimpin negara, langsung terjadi krisis moneter
kalo aku jadi pilot di bandara, pesawat bisa kcelakaan
kalo aku jadi .... bakalan gini... gini...
mau nangis ga bisa nangis, minta maaf pun rasanya udah terlambat... udah buang kelaut...
coba bertanggung jawab, mau tanggung jawab apa, waktu ga akan pernah kembali
aaaaarrrrrrggggggggghhhhh...

mencoba bersikap tenang, tapi tetep galau..
ibaratnya melalaikan sholat maghrib sehingga shalat isya pun lalai...

dari kejadian hari ini, kok aku ngerasa kredibilitasku sebagai seorang pemimpin luluh lantak
hancur lebur... ngeliat muka temen-temen yang tetep senyum, tapi kalo aku diposisi mereka...
wah kayaknya udah ga percaya lagi...

dari kejadian hari ini, aku berjanji kepada diriku sendiri... akan sangat berusaha semampu-mampunya untuk ndak ketiduran lagi, ga telat lagi, ga buat orang menunggu... tepat waktu... akan berusaha... sangat berusaha...
akan mencoba semaksimal mungkin untuk ndak lalai....untuk ndak ketiduran... untuk ndak ingkar janji...

T.T terbunuh, dibunuh oleh kelalaaian....
ga bisa kembali lagi... ga bisa mengulang lagi...
aku yang telah lalai... lalai dengan janji dan waktu...
aku... yang tak bisa kembali lagi untuk mengulang waktu meskupun satu detik sebelum aku lalai
aku yang telah kecewa dan mengecewakan orang lain
aku, lalai dan terbunuh oleh kelalaian...


Minggu, 16 Desember 2012

surat izin men.... (menjadi pemimpin)


Dua hari yag lalu, aku berangkat ke sebuah tempat bersama para pemimpin-pemimpin kampus IPB untuk mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan.  Ada banyak orang hebat yang berkumpul untuk mengikuti pelatihan, mendiskusikan beberapa hal tentang keorganisasian. Bener-bener suasana yang elegant melihat para pemimpin di kampus bertukar pikiran, berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan keorganisasian.
                Aku, bolehlah yak disebut Direktur. Direktur sebuah organisasi impian penuh harapan dan kebersamaan. Pemimpin sebuah keluarga besar yang bersahaja yang namanya FORCES (forum for scientist studies). Begitu banyaknya rangkaian acara di pelatihan kepempinan itu, selama dua hari di tengah ramainya orang menyampaikan pendapat, antusiasnya para peserta memahami materi, aku teringat keluarga itu. Aku teringat kebersamaan yang ada di sebuah ruang persegi berukuran kurang lebih 3X3 Meter yang isinya adalah barang-barang pribadi. Ramainya ruang kecil itu karena canda, tawa serta diskusi yang sangat hidup menghidupkan suasana. Aku ingat juga betapa ruang kecil beserta orang-orang didalamnya dapat menghapus penatnya permasalahan hidup ini. Aku juga ingat ruangan kecil yang agak berantakan itu memberikan aku sebuah keluarga di tengah masa merantau selama kuliah.
                Selama dua hari ditengah keramaian para pemimpin berdiskusi, aku diam dan berfikir tentang kalian, Teman-temanku, adik-adikku yang harus aku pimpin selama satu tahun kedepan.  Seorang pembicara menjelaskan dalam presentasinya beberapa kriteria seorang pemimpin,  mulai dari karakter, kepribadian serta ciri-cirinya. Secara jujur karakter dan ciri-ciri yang telah di jelaskan sangat ndak sesuai dengan apa yang ada di diriku. Lebih jelas lagi, pembicara itu memberikan sebuah simulasi untuk membuktikan tipe kepribadian masing-masing peserta. Semua tau bahwa tipe kepribadian pemimpin adalah korelis. Dan setelah menjawab beberapa pertanyaan terbukti bahwa aku bukanlah seorang korelis namun aku seorang sanguinis. Aku ndak sehebat pemimpin-pemimpin di pelatihan itu temen-temen.  Aku ndak banyak mengajukan pendapat, aspirasi ataupun sebuah ide. Bahasanya ndak keren bangetlah kayak ketua organisasi lain yang banyak mengacungkan jarinya selama acara seakan ide dan pendapatnya ada segudang di otaknya. Sedangkan aku banyak diam. Kalo aku lagi-lagi diem.....
                Tapi, entah kenapa diamnya aku malah membuat motivator itu selalu menatap kepadaku. Bertanya tentang pendapatku, selalu memberi contoh melalui diriku. Aku juga menjadi bahan pembanding diantara beberapa tipe kepribadian yang ada. Ah, mungkin karena motivator itu tahu bahwa sedang ndak fokus memerhatikan apa yang disampaikannya. Tetapi, aksi motivator itu membuat aku menjadi penasaran untuk bertanya bagaimana menjadi seorang pemimpin yang paham akan anggotanya, paham mengenai kemauan dan paham bagaimana mencapai visis misi sebuah organisasi. Beberapa pertanyaan aku sampaikan mengenai persoalan yang aku ndak bisa menyelesaikannya selama ini. Ternyata luar biasa ternyata jawaban yang diberikan sangat memuaskan dan sebelum motivator itu mengakhiri sesinya ia berkata  yang kalo di ringkas begini “apapun tipe kepribadianmu, bukan batasan engkau harus menjadi ini dan itu, bukan berarti seorang sanguinis tidak bisa memimpin, semuanya bisa memimpin yang penting kita mau berusaha, karena sayapun seorang sanguinis”
                Untuk temen-temenku di keluarga FORCES tercinta, aku bukan orang yang prestatif dalam hal karya tulis, aku juga bukan orang yang cepet hapal semua nama (terutama forces 10), aku juga bukan seorang korelis yang dapat memimpin dengan baik, aku juga ndak tahu dengan jelas apa keinginan temen-temen, aku jarang online untuk ngepoin blog temen-temen, jarang facebookan untuk tahu status temen-temen, bahkan jarang main twitter. Mungkin masih sangat banyak kekurangan dalam diri ini, masih banyak ketidaktahuan dan mungkin masih rendah tingkat pemahamanku. Namun, izinkan direktur baru ini belajar dan berusaha untuk memimpin, memberdayakan dan memberi contoh bagi temen-temen semuanya. Izinkan direktur yang baru ini mencoba dan menggali potensi yang ada untuk kepentingan kita semua bersama. Mohon beri dukungan dan doa semoga direktur yang katanya “direktur gombal” (aku ndak setuju.. ha2) bisa amanah dalam mengemban hak dan kewajibannya. Izinkan diri yang belum tentu lebih baik dari temen-temen semuanya untuk jadi pemimpin di keluarga ini.
*Mungkin tulisan ini agak lebay dan galau... tapi seperti biasanya “ aku bingung mau nulis apa untuk nyapa temen-temen semua”  FORCES!!!  Go scientist...

Senin, 10 Desember 2012

seikat kaos kaki



Seikat kaos kaki
Kemarin, tepatnya 9 desember 2012 aku dihadapkan pada moment dimana Allah memberikan aku sebuah ujian untuk memimpin sebuah organisasi. Menjadi pemimpin bisa dibilang seperti menempatkan diri pada jalan terjal penuh rintangan yang di samping kanan kirinya ada jurang dengan membawa seorang anak kecil. Ada tanggung jawab disana, ada resiko, rintangan serta hambatan yang membentang. Tapi memang perjalanan itu berujung pada puncak terindah dimana kita bisa melihat indahnya matahari terbit sehingga membuka peluang untuk mendaki puncak yang lebih tinggi dan lebih indah bahkan menggapai langit tertinggi.
Aku, seorang pemuda berbadan mungil, dengan kulit hitam manis, terkadang merasa belum pantas untuk memimpin, masih banyak di luar sana pemuda yang lebih ganteng, keren dan berbadan besar. Aku sadar, di dekatku ada jurang yang dapat membuat diriku akan jatuh terjerembab ke dalam jurang saat aku salah dalam melangkah. Sedikit kesalahanku dalam melangkah, maka aku ndak hanya membuat diriku jatuh ke jurang tapi juga anak kecil yang aku bawa. Tanggung jawab, resiko, cobaan, hambatan semua itu terbayang di hati dan pikiran sehingga kedua tanganku seakan memegang sebuah gunung yang harus aku pikul hingga nanti (agak lebai sih).
Namun, diselah perenunganku, ada beberapa teman yang masih ingat kapan aku lahir, kapan aku mulai melangkah. Mereka memberiku sebuah hadiah yang buat aku cari tissue saat membuka hadiah tersebut. Di mushola al-fath aku  buka bungkusan itu, didalamnya terdapat kemeja putih bergaris. Tapi yang lebih membuat aku mau nangis adalah begitu perhatiannya mereka kepadaku, seorang pemuda yang pakaiannya agak cupu (ndak gaul) yang sering ndak make kaos kaki. Dan mereka menghadiahkan dua pasang kaos kaki yang diikat dengan pita kuning.
Seikat kaos kaki dengan pita kuning, aku ndak akan lupa itu. Di tengah amanah baru yang membuat beban tanggungjawabku lebih besar, aku serasa mendapat tenaga baru, aku serasa dapet suplemen baru untuk semangat mengemban amanah. Hadiah itu, kayak sekelumit rasa manis di tengah sensasi sayur asem yang sering dibuat ibuku. Manis itu membuat semuanya jadi sempurna. Dalam hati aku berkata ya Allah terima kasih engkau telah mempertemukan aku dengan mereka, sahabat terbaik, yang selalu memberiku semangat saat aku lelah, memberiku tawa saat aku sedih dan memberikan kado terindah “seikat kaos kaki” yang didalamnya ada pesan yang spesial “semoga cepet dapet jodoh ya tek”. Ah pesan itu mungkin karena aku terlalu banyak bicara tentang nikah dihadapan mereka.
Terlepas dari semua itu, ya Allah semoga mereka yang sangat perhatian dan sayang kepadaku, selalu sehat dan bahagia serta dimudahkan dalam segala urusannya. Aku, maaf yak temen-temen, aku belum bisa jadi pemimpin dan teman yang baik. Aku masih sering lupa untuk nanya kabar kalian, apalagi tau kondisi hati kalian seneng atau sedih. Tapi insya Allah aku mau belajar n berusaha jadi pemimpin n temen kalian yang terbaik. Minimal udah bisa cepet bales sms... he2.
Seikat kaos kaki itu... kado terindah... kemejanya buat aku tambah ganteng.. bangga aku memakainya... terima kasih temen2ku... LI,DE,DW,US,RI
I LOVE YOU MY BEST FRIEND

Kamis, 29 November 2012

Bercermin Pada Air Yang Tenang

Tepat dua puluh tahun lebih dua hari yang lalu, seorang pemuda dari desa kedaton 4 itu lahir. ucapan "selamat ulang tahun" berceceran di inbox sms handphonenya. pemuda itu ditelpon oleh orang tuanya mengenai kondisi ekonomi keluarganya... bgini percakapan telephone di teras kampus saat hujan waktu itu :
truuut...
pemuda : asslmualaikum, hallo...
abah      : walaikumsalam, lagi ngapain nak?
pemuda : lagi ngobrol sama teman bah sambil nunggu hujan reda...
abah      : gimana kondisi kuliahmu, lancar kan?
pemuda : alhamdulillah lancar bah, tapi semakin mendekati tingkat akhir beban kuliah maupun beban pikiran makin berat bah... maaf klo ndak bisa memberikan sesuatu yang lebih..
abah     : alhamdulillah klo gitu, tetep pertahankan beasiswamu itu ya nak, soalnya akhir tahun ini dengan kondisi abah yang semakin tua, sepertinya akhir tahun ini abah mulai pensiun untuk bekerja dan otomatis abah ndak bisa biayai uang kuliahmu lagi nak...
pemuda : oh ya bah, aku paham masalah itu, selama ini juga aku lagi dalam proses berfikir dan merencanakan, mengenai beasiswa insya Allah akan selalu dijaga sampe akhir kuliah.. doakan saja bah, ada rezeki kedepannya..
abah     : insya Allah abah dan mama selalu mendoakanmua... gitu aja yak, cuma ngasih tau kondisi kita supaya kita lebih sadar... asslmualaikum...
pemuda : iya bah... walaikumsalam, salam sama mama dan mbak...
percakapan tersebut, bener-bener percakapan yang indah antara seorang ayah dan anak, di umur yang ke-20, ayah dari pemuda itu mengajarinya tentang sadar akan kondisi, mengajarinya tentang keharusan memulai usaha, mempertahankan sesuatu yang baik serta mempersiapkan segala sesuatunya. dengan percakapan tersebut, pemuda itu mulai sadar bahwa usianya telah mencapai dua puluh tahun yang berarti segala sesuatunya harus mulai mandiri bahkan suatu saat nanti mesti bertanggungjawab untuk orang lain.
meskipun selama ini, pemuda itu menjalani kuliah tanpa biaya dari orang tua, namun dengan percakapan tersebut ada sebuah pesan yang terisrat dari orang tuanya, bahwa diumur yang ke dua puluh pemuda itu harus mulai belajar membuat sebuah keputusan tentang masa depan.
satu hari setelah percakapan itu, ternyata memang benar, pemuda itu dihadapkan pada dua pilihan yang sangat besar antara menjadi atau tidak menjadi. menjadi yang berarti ada harga yang harus dibayar dengan pertanggungjawaban dan tidak menjadi yang berarti harus dibayar dengan sebuah resiko jangka pendek maupun jangka panjang. pemuda itu bingung, bimbang...
sesuai yang sering dikatakannya "hidup itu pilihan" dan sekarang ia dihadapkan pada pilihan yang sangat besar resiko dan pertanggungjawabannya. namun, dalam kebimbangan antara dua pilihan tersebut, pemuda itu sadar bahwa inilah sebuah pendewasaan. inilah sebuah pembelajaran bagaimana kita nantinya akan dihadapkan pada pilihan yang besar, karir, istri, kontribusi,dll. tidak lama lagi pemuda itu akan mengalaminya, maka pilihan demi pilihanpun dia sadari sebagai sesuatu yang harus dijalani dan tidak bisa dihindari resiko dan pertanggungjawabannya.
 saat ini, pemuda itu lebih banyak diam, bukan karena marah pada seseorang dan bukan juga karena berubah kepribadiannya, namun dalam diamnya ternyata ia menemukan jalan, solusi, titik terang untuk mengeksekusi sebuah pilihan. yap, seperti air yang tenang, maka kita dapat melihat bayangan wajah kita saat bercermin diair yang tenang, bahkan segala sesuatu yang berada diatas air yang tenang akan terlihat dengan jelas hingga langit yang tinggipun bayangannya akan tercermin di air yang tenang.
dalam diam seperti air yang tenang, ternyata ia juga dapat bercermin dan lebih mengenal rupa wajahnya, lebih mengenal sikap dan kepribadiannya, lebih mengenal sifatnya sehingga terlihat jelas tentang kesalahan demi kesalahan yang dilakukan, tentang keinginannya, tentang impian dan cita-citanya dan yang paling penting adalah tentang siapa dirinya. di air yang tenang ia lebih mengenal bagaimana dirinya seharusnya menjadi, bagaimana seharusnya bergerak, bagaimana seharusnya berfikir dan bagaimana seharusnya berbuat.
air yang tenang itu, ternyata membuat ia lebih hidup, lebih memberikan kehidupan, dan lebih jernih. meskipun akan ada banyak gangguan yang siap kapanpun membuat ia keruh. namun dalam tenangnya, dalam diamnya, setiap keruhnya air itu akan segera kembali jernih dan tenang serta siap memberikan cerminan dan pantulan untuk warna langit yang indah. diam atau tenang bukan berarti tidak memberikan riak ceria di sekitar, namun riak keceriaan itu telah tergantikan dengan suara-suara ceria dan bahagia anak-anak yang bermain disekitar air yang tenang.
riak keceriaan itu akan tergantikan dengan keramahan dan keteduhan suasana indah di air yang tenang.


Selasa, 06 November 2012

titik D di gelombang transfersal

pagi ini, pemuda itu terbangun dengan mata kirinya yang merah. pemuda itupun bingung dan ndak tau apa penyebab matanya merah. yang pasti pemuda itu tidur sekitar jam 1 malam karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan. rencana pagi ini, pemuda itu akan menghadiri sebuah pertemuan untuk membahas sebuah acara di kampus, tapi ternyata usai shalat badan pemuda itu ga bisa menyesuaikan dengan agenda yang ada, sehingga pemuda itupun tertidur.
tepat jam 07.00 pemuda itu bangun lagi dan bgitu kagetnya ia melihat jam. padahal pemuda itu punya agenda jam 06.00. kecewa, sedih dan merasa bersalah. itu yang sekarang ia rasakan. sambil berangkat menuju kampus, pemuda itu jadi teringat pelajaran fisika SMP tentang gelombang transfersal. yak gelombang transfersal itu terdiri dari bukit dan lembah dan setiap bukit dan lembah memiliki titik maksimum dan minimum.
saat ini, pemuda itu berada pada titik minimum lembah, titik terendah apabila gelombang transfersal digambarkan dalam sumbu X dan Y seperti gambar diatas. apabila dijelaskan sesuai dengan gambar diatas, mungkin pemuda itu saat ini sedang berada di titik D. banyak sekali permasalahan yang terjadi, agenda yang ada, amanah yang lalai, kondisi akademik yang sedang turun, kondisi badan yang rentan dan sering drop, dan yang paling krusial adalah amalan yaumiah yang sedang luntur.
saat ini pemuda itu dihadapkan pada dua amanah yang sangat menyita waktunya, kemudian dikombinasikan dengan segala tugas akademik untuk memperbaiki akademik yang sempat menurun sebelumnya ditambah dengan rencana besarnya ditahun ketiga ini. seringkali kondisi tubuhnya tidak menopang segala urusan. pemuda itu mulai merasa orang-orang disekitarnya serta lingkungan tidak lagi percaya dengan dia. merasa bersalah dengan orang2 disekitanya yang telah memberinya amanah, tapi tidak terlaksana.
dalam hati pemuda itu minta maaf kepada semua orang karena banyak amanah yang tidak terlaksana bahkan sering menyusahkan orang lain. maaf, maaf... mudah-mudahan setelah titik minimum lembah ini, pemuda itu segera dapat bangkit dan menyelesaikan tugas-tugasnya... ada target besar yang mesti disiapkan oleh pemuda itu ditahun depan... pemuda itu berkata "kepada semua orang yang merasa tersakiti, merasa direpotkan, merasa dikhianati atau merasa dibohongi oleh saya, saya mohon maaf yak mungkin cuma maaf dan perbaikan diri yang bisa saya lakukan"

di tengah banyak orang merasa sendiri...